Rizal Ramli: Quick Count Digunakan untuk Bungkus Kecurangan
GELORA.CO - Sekitar jam 15.00 WIB pada Rabu (17/4) kemarin, sejumlah lembaga survei mengumumkan hasil hitung cepat (quick count) perolehan suara Pilpres 2019 di berbagai media. Seluruh lembaga survei itu memenangkan pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-Ma�ruf Amin.
Fenomena tersebut mendapat sorotan dari ekonom senior Rizal Ramli. Menurut dia, telah terjadi penyalahgunaan quick count oleh lembaga-lembaga survei di Tanah Air sebagai alat untuk menyembunyikan kecurangan petahana.
�Di Filipina, quick count dimulai oleh kelompok oposisi NAMFREL, untuk melawan kecurangan diktator Ferdinand Marcos. Di Indonesia, quick count justru digunakan untuk membungkus kecurangan penguasa, karena perusahaan-perusahaan polling adalah �benalu demokrasi�,� ungkap Rizal Ramli di Jakarta, Kamis (18/4).
Mantan menteri Kabinet Kerja itu pun menaksir tingkat kesalahan (margin of error) yang dilakukan lembaga-lembaga survei Indonesia cukup besar. �Kesalahan perkiraan �Jokowi Effect� 17%= 8,5 x margin of error,� ucapnya.
Sekitar jam 15.00 WIB kemarin, beberapa lembaga survei menempatkan pasangan Joko Widodo-Maruf Amin sebagai jawara Pilpres 2019 dengan perolehan sekira 54 persen suara. Sementara, pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mendapat 45 persen suara.
Menanggapi itu, Prabowo tetap optimistis menang dan menegaskan bahwa ada lembaga-lembaga survei yang memang sudah bekerja untuk satu pihak. Bersamaan dengan pernyataan tersebut, dia mengungkapkan bahwa hasil exit poll internalnya di 5.000 TPS menunjukkan Prabowo-Sandi menang 55,4 persen. Sementara, hasil quick count internalnya menang 52,2 persen. [ins]
Post Comment
Tidak ada komentar