Suara Relawan: Saat Pilpres Kami Dukung Jokowi, Kini Kami Seolah Sampah dan Menjijikkan
"Buzzer ini kan istilahnya bukan hanya ditujukan buzzer Istana. Buzzer ini kita bilang ada buzzer Kartanegara juga kan. Itu dalam konteks pilpres, " kata Pepih Nugraha, Jumat (4/10/2019).
Pepih adalah salah satu dari banyak nama yang diunggah akun Facebook Seword , akun pro-pemerintahan Jokowi. Pepih dan yang lain berkumpul memenuhi panggilan Kakak Pembina, sosok misterius. Orang-orang yang berkumpul itu lantas dianggap buzzer Jokowi.
Mantan wartawan ini berusaha meluruskan isu tersebut. Menurutnya, istilah buzzer bukan hanya ada untuk buzzer Istana Kepresidenan saja. Buzzer adalah pihak atau orang yang mendengungkan sebuah pesan. Terlepas kerja-kerja mendengung itu dibayar atau sukarela
Ada barangkali buzzer khilafah, buzzer HTI. Buzzer ini kan kalau bahasa Indonesianya kan pendengung dari suara-suara lebah-lebah. Jadi orang yang mendengungkan," ujar Pepih
"Siapapun bisa mendengungkan, entah itu pesanan, dibayar, atau entah itu sukarela," sambungnya.
Dia mencontohkan buzzer seperti orang yang suka bermain gitar. Orang yang suka bermain gitar, bisa saja mempromosikan atau mendengungkan bahwa bermain gitar itu menyenangkan. Menurutnya, itu merupakan contoh buzzer sukarela.
Ketika orang yang suka bermain gitar itu diminta salah satu merek gitar untuk mendengungkan produknya, barulah hal itu masuk dalam kategori buzzer berbayar.
Dia lantas mempertanyakan sejumlah pihak yang meminta pemerintah menertibkan buzzer. Menurutnya, hal tersebut justru upaya untuk merusak proses demokrasi.
"Ada yang meminta Pak Jokowi menertibkan para buzzer-nya yang dirasa bisa merusak demokratisasi ini. Lha kok yang diminta malah buzzer-nya Pak Jokowi? Kenapa bukan minta buzzer-nya HTI ditertibkan? Jelas-jelas itu ingin mengganti NKRI. Dia kan ingin mengganti ideologi Pancasila toh," ujarnya.
Post Comment
Tidak ada komentar