Stop Viktimisasi Ala Jok(ow)er: Orang Jahat Itu Orang Baik Tersakiti
"Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti," begitu bunyi sebuah tulisan dari sebuah foto sehabis nonton film Joker.
Joker berkisah tentang seseorang yang berusaha menjadi komedian. Dia memiliki masalah kesehatan mental yang berujung pada kehidupan kriminalitas. Pelanggarannya menginspirasi orang lain untuk melakukan tindakan kekerasan dan memprovokasi anarkis secara luas.
Tidak sedikit mereka, yang telah menonton film musuh bebuyutan Batman itu, menceritakan bagaimana orang-orang menggunakan tokoh Joker sebagai tameng keburukan dalam hidupnya. Untuk melegalkan dan menghalalkan apa saja dalam hidupnya.
Jujur saja, orang jujur tentu tidak begitu setuju dengan pernyataan seperti di awal tulisan ini.
Sederhana, karena kita begitu mudah menggunakan kata "baik" untuk menutupi "ketidakmampuan" atau "kelemahan" kita.
Misalnya saja ketika di bangku sekolah, kita pasti pernah melihat ada anak yang sudah menyelesaikan PR, lalu PRnya dicontek oleh teman-teman sekelasnya yang belum dikerjakan.
Awalnya mungkin ia menolak PRnya banyak disontek namun karena tidak kuat menolak, ia pun memberikannya. Lalu, apakah label "baik" pantas digelarkan kepada si anak yang rajin tadi?
Kejahatan tetaplah kejahatan. Kebaikan tetaplah kebaikan. Keduanya sulit bersatu layaknya air dan minyak.
Di dunia maya, banyak pendengung yang membela junjungannya hingga membabi buta dan menanggalkan akal sehat. Sulit untuk tidak menyebut mereka itu Jokower. Karakternya tak jauh berbeda dengan Joker.
Joker berkisah tentang seseorang yang berusaha menjadi komedian. Dia memiliki masalah kesehatan mental yang berujung pada kehidupan kriminalitas. Pelanggarannya menginspirasi orang lain untuk melakukan tindakan kekerasan dan memprovokasi anarkis secara luas.
Tidak sedikit mereka, yang telah menonton film musuh bebuyutan Batman itu, menceritakan bagaimana orang-orang menggunakan tokoh Joker sebagai tameng keburukan dalam hidupnya. Untuk melegalkan dan menghalalkan apa saja dalam hidupnya.
Jujur saja, orang jujur tentu tidak begitu setuju dengan pernyataan seperti di awal tulisan ini.
Sederhana, karena kita begitu mudah menggunakan kata "baik" untuk menutupi "ketidakmampuan" atau "kelemahan" kita.
Misalnya saja ketika di bangku sekolah, kita pasti pernah melihat ada anak yang sudah menyelesaikan PR, lalu PRnya dicontek oleh teman-teman sekelasnya yang belum dikerjakan.
Awalnya mungkin ia menolak PRnya banyak disontek namun karena tidak kuat menolak, ia pun memberikannya. Lalu, apakah label "baik" pantas digelarkan kepada si anak yang rajin tadi?
Kejahatan tetaplah kejahatan. Kebaikan tetaplah kebaikan. Keduanya sulit bersatu layaknya air dan minyak.
Di dunia maya, banyak pendengung yang membela junjungannya hingga membabi buta dan menanggalkan akal sehat. Sulit untuk tidak menyebut mereka itu Jokower. Karakternya tak jauh berbeda dengan Joker.
Post Comment
Tidak ada komentar