Belum Ada Bukti dan Saksi, Polres Pangkep Masih Sulit Ungkap Penyebab Kematian Rahmat
KORANPANGKEP.CO.ID - Meski identitas penemeuan kerangka manusia telah berhasil diungkap oleh Biddokkes Polda Sulsel Selasa (28/5/2019) lalu, namun penyebab kematian dan motif ditemukannya kerangka manusia yang ditemukan warga pada tanggal 14 November 2018 lalu, di kampung Maccinioto kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) Sulsel tersebut masih menjadi teka teki dan masih belum terungkap hingga saat ini
Hal ini dibenarkan oleh Kasatreskrim Polres Pangkep, AKP Anita Taherong saat dikonfirmasi oleh awak media, Ia mengaku saat ini pihaknya masih kesulitan memecahkan kasus tersebut, Alasannya, polisi belum mempunyai alat bukti dan saksi-saksi yang cukup untuk mengungkap kasus tersebut. Anita menyebut, hingga kini masih belum mendapatkan fakta baru terkait kasus kerangka manusia.
"Kita masih kesulitan bukti dan saksi-saksi soal memecahkan kasus ini dan belum ada fakta terbaru yang kita dapatkan," ujarnya.
Namun demikian Anita menyebutkan pihak Polres Pangkep masih terus berusaha keras mencari fakta fakta terbaru tentang penyebab kematian penemuan kerangka manusia tersebut.
"Saat ini kami masih berusaha keras untuk mencari penyebab dan motif ditemukannya tengkorak manusia, yang ditemukan Rabu, 14 November 2018 lalu," ujar dia.
Sebelumnya di beritakan Biddokkes Polda Sulsel akhirnya berhasil mengungkap identitas kerangka manusia yang ditemukan di Kampung Maccini Oto, Kelurahan Bonto Perak, Kecamatan Pangkajene, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulsel pada Rabu 14 November 2018 lalu.
Identifikasi itu diumumkan melalui press release oleh Kepala Biddokkes Polda Sulsel Kombes Pol dr R Harjuno yang berlansung di Kantor Biddokkes Polda Sulsel, Jl Kumala, Makassar, Selasa (28/5/2019) sore kemarin.
Kepala Bidang Dokkes Polda Sulsel, Kombes Pol Raden Harjuno mengungkapkan, dari hasil pemeriksaan kurang lebih 4 bulan oleh Tim Forensik Dokpol dibantu PPSD forensik FK- Unhas, FK-UMI dan FK-Unismuh ini akhirnya terungkap kerangka tersebut berjenis kelamin laki-laki yang diketahui bernama Rahmat.
Pengunkapan identitas kerangka itu dilakukan secara Scientific Crime Investigation (SCI) dan melalui tes DNA warga Kampung Baru-Baru Tanngaya yang mengaku kehilangan anggota keluarganya yakni Mustafa Bin Sabe dan St Mina H Duri
"Jadi Hasil DNA sudah keluar dan tidak terbantahkan lagi secara genetik, bahwa sampel kerangka teridentifikasi sebagai Rahmat (28 tahun) anak biologis dari Mustafa Bin Sabe dan St Mina H Duri," katanya saat menggelar jumpa pers, Selasa, (28/05/2019).
Pengungkapan ini sendiri dilalui melalui pengumpulan ukuran dari dua tulang yakin tulang femur dan tulang Tibia, yang diperkirakan tingginya 153 cm.
Ketua tim Forensek Biddokkes Polda Sulsel dr Deni menyebutkan, untuk penyebab kematian sendiri masih didalami oleh penyidik.
"Ketika kita sudah identifikasi ini, mungkin kita akan koordinasi dengan penyidik dari Polres Pangkep, dan mereka akan dalami kasusnya. Kalau Penyebab kematian susah untuk kita temukan karena sudah berbentuk kerangka," jelasnya saat itu.
(ADM-KP)
Hal ini dibenarkan oleh Kasatreskrim Polres Pangkep, AKP Anita Taherong saat dikonfirmasi oleh awak media, Ia mengaku saat ini pihaknya masih kesulitan memecahkan kasus tersebut, Alasannya, polisi belum mempunyai alat bukti dan saksi-saksi yang cukup untuk mengungkap kasus tersebut. Anita menyebut, hingga kini masih belum mendapatkan fakta baru terkait kasus kerangka manusia.
"Kita masih kesulitan bukti dan saksi-saksi soal memecahkan kasus ini dan belum ada fakta terbaru yang kita dapatkan," ujarnya.
Namun demikian Anita menyebutkan pihak Polres Pangkep masih terus berusaha keras mencari fakta fakta terbaru tentang penyebab kematian penemuan kerangka manusia tersebut.
"Saat ini kami masih berusaha keras untuk mencari penyebab dan motif ditemukannya tengkorak manusia, yang ditemukan Rabu, 14 November 2018 lalu," ujar dia.
Sebelumnya di beritakan Biddokkes Polda Sulsel akhirnya berhasil mengungkap identitas kerangka manusia yang ditemukan di Kampung Maccini Oto, Kelurahan Bonto Perak, Kecamatan Pangkajene, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulsel pada Rabu 14 November 2018 lalu.
Identifikasi itu diumumkan melalui press release oleh Kepala Biddokkes Polda Sulsel Kombes Pol dr R Harjuno yang berlansung di Kantor Biddokkes Polda Sulsel, Jl Kumala, Makassar, Selasa (28/5/2019) sore kemarin.
Kepala Bidang Dokkes Polda Sulsel, Kombes Pol Raden Harjuno mengungkapkan, dari hasil pemeriksaan kurang lebih 4 bulan oleh Tim Forensik Dokpol dibantu PPSD forensik FK- Unhas, FK-UMI dan FK-Unismuh ini akhirnya terungkap kerangka tersebut berjenis kelamin laki-laki yang diketahui bernama Rahmat.
Pengunkapan identitas kerangka itu dilakukan secara Scientific Crime Investigation (SCI) dan melalui tes DNA warga Kampung Baru-Baru Tanngaya yang mengaku kehilangan anggota keluarganya yakni Mustafa Bin Sabe dan St Mina H Duri
"Jadi Hasil DNA sudah keluar dan tidak terbantahkan lagi secara genetik, bahwa sampel kerangka teridentifikasi sebagai Rahmat (28 tahun) anak biologis dari Mustafa Bin Sabe dan St Mina H Duri," katanya saat menggelar jumpa pers, Selasa, (28/05/2019).
Pengungkapan ini sendiri dilalui melalui pengumpulan ukuran dari dua tulang yakin tulang femur dan tulang Tibia, yang diperkirakan tingginya 153 cm.
Ketua tim Forensek Biddokkes Polda Sulsel dr Deni menyebutkan, untuk penyebab kematian sendiri masih didalami oleh penyidik.
"Ketika kita sudah identifikasi ini, mungkin kita akan koordinasi dengan penyidik dari Polres Pangkep, dan mereka akan dalami kasusnya. Kalau Penyebab kematian susah untuk kita temukan karena sudah berbentuk kerangka," jelasnya saat itu.
(ADM-KP)
Post Comment
Tidak ada komentar