Demokrasi Memicu Korupsi dan Jual Beli Jabatan, Campakkan dan Ganti dengan Sistem Islam!
![]() |
Gambar: Ilustrasi |
Oleh: Mochamad Efendi
Mediaoposisi.com-Dunia terbuka matanya saat ketua PPP Romi tertangkap oleh KPK atas tuduhan suap atas jual-beli jabatan di Kemenag. Sungguh terbukti, dia yang merasa paling pancasilais ternyata penjahat. Pancasila hanya dijadikan simbol saja tapi nilai yang terkandung di dalamnya tidak diamalkan. Pancasila hanya sebagai alat gebuk untuk memukul musuh yang tidak sepaham dengan yang anti Pancasila.
Ternyata, Pancasila tidak bisa membentuk seseorang menjadi pribadi takwa yang takut hanya pada Allah, Tuhan yang menciptakan manusia. Hanya Islam yang mampu menjaga para pejabat agar tidak menjadi penjahat.
Demokrasi memang memicu seseorang melakukan kecurangan dengan jabatan dan kekuasaannya. Suap dan korupsi rasanya sudah biasa pada sistem demokrasi. Bisa jadi, masih banyak koruptor yang ada dalam lingkaran kekuasaan. Mereka merasa aman karena dilindungi penguasa sehingga bebas melakukan kecurangan.
Tapi, mereka lupa, Allah Maha Tahu atas apa yang mereka perbuat sampai pada waktunya. Hukuman yang sangat pedih dan menyakitkan pasti mereka dapatkan. Kenapa demokrasi memicu para pejabat untuk menjadi penjahat?
Biaya politik dalam sistem demokrasi sangat tinggi. Mereka harus mengeluarkan dana yang cukup besar untuk kampanye agar bisa dipilih dalam sistem demokrasi. Sehingga, saat terpilih, mereka akan terdorong untuk mengembalikan dana yang sudah dikeluarkan untuk kursi kekuasaan. Jika ada kesempatan, pasti mereka makan uang rakyat setelah menghamburkan uang untuk pesta rakyat.
Apakah sistem demokrasi akan kita pertahankan? Sistem yang mendorong seseorang untuk menghalalkan segala cara. Cara curang pun ditempuh asalkan tujuan ambisi kekuasaan tercapai. Ini sebenarnya sudah disadari semua orang. Demokrasi memunculkan orang-orang culas, licik, dan tega hingga korbankan temannya sendiri karena tujuan politik dari demokrasi adalah kekuasaan.
Pada saat menjelang pilpres, janji manis ditebar dan wajah lugu dan merakyat dimainkan. Namun, saat tujuannya tercapai mereka ingkar janji. Janji manis tinggallah janji. Topeng kemunafikan dilepas sehingga terlihat jelas keberpihakkannya tidak pada rakyat.
Sangat berbeda dengan politik dalam sistem Islam untuk mengurusi urusan rakyat. Politik sangat mulia dalam Islam hingga terdorong munculnya orang-orang bersih karena takut pada Allah. Ongkos politik dalam sistem Islam sangatlah murah, yang dibutuhkan adalah orang-orang yang mempunyai komitmen dalam mengurusi urusan rakyat. Jabatan adalah amanah yang harus harus dijalankan untuk mencari ridho Allah.
Mereka diharuskan untuk ikhlas dalam melaksanakan setiap amanah yang diberikan. Karena dalam politik Islam, hukum akan sangat tegas dan tidak pandang bulu bagi siapa saja yang tidak amanah apalagi bagi maling yang sudah makan uang rakyat.
Kesadaran politik tidak hanya memilih dan dipilih namun mengawasi jalannya kepemimpinan agar sesuai dengan aturan Islam dan ini yang harus dijalankan oleh seluruh rakyat. Menjelekkan dan menghujat lawan politik dengan tipu menipu tidak akan laku. Karena dalam politik Islam, rakyat memberikan nasihat dan kritikan didengar dan dipertimbangkan sebagai masukan yang membangun.
Sangat berbeda dengan sistem demokrasi yang menganggap kritikan sebagai kebencian yang harus dimusnahkan karena bisa mengganggu kepentingan penguasa. Sehingga, demokrasi akan cenderung memunculkan penguasa yang anti kritik. Hukum tidak mungkin tegak dalam sistem demokrasi karena penguasa akan menggunakan hukum sebagai alat politik untuk menjaga kekuasaannya. Hukum dijadikan alat politik untuk menjerat lawan-lawan politiknya. Hukum tajam ke lawan tapi tumpul ke kawan. Hukum tebang pilih adalah fakta.
Sungguh, sistem Islam dirindukan oleh setiap orang yang menginginkan perubahan yang lebih baik. Namun, orang-orang culas yang tidak menginginkan kebaikan pasti akan menghalang-halangi tegaknya sistem Islam. Kesejahteran dalam sistem Islam untuk semua orang, bukan hanya untuk segelitir orang seperti pada sistem kapitalisme sekarang ini. Hukum dalam sistem Islam, berlaku untuk semua orang.
Namun, dalam sistem demokrasi kapitalisme, hukum dipermainkan sehingga tidak memenuhi unsur keadilan. Sistem Islam adalah sistem ideal untuk semua orang. Masihkah kita menolak diatur dalam sistem Islam, solusi terbaik untuk semua orang yang datang dari Tuhan Sang Pencipta manusia? Hanya orang-orang yang bodoh saja yang menolak sistem Islam yang akan membawa rahmat bagi seluruh alam. Indahnya hidup dalam sistem Islam. [MO/ms]
Post Comment
Tidak ada komentar